Jumat, 01 September 2017

Menciptakan Budaya Anti Rokok di Masyarakat


Rokok mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya dan mematikan, tapi tren perokok makin bergeser ke usia semakin muda. Perlu penanganan yang sangat serius dari seluruh komponen bangsa untuk menciptakan budaya anti rokok di masyarakat. Penyadaran terus menerus adalah kata kuncinya.
Sehat itu mahal. Kalimat tersebut bukanlah jargon semata. Bagi Albert Charles Sompie yang sekarang telah sehat sangat merasakannya. Ia baru menyadari rokok ternyata tidak ada manfaatnya sama sekali, kecuali menjadi penyebab berbagai sumber penderitaan. Jika beruntung tidak mengalami serangan jantung karena pembuluh darah tersumbat atau penyakit kanker paru, minimal perokok sangat merugi karena ‘membakar’ uangnya untuk sebuah kesia-siaan.

Ironis memang, sebagai mantan atlit softball nasional era 1980-1990, Albert Charles Sompie ayah dua anak ini dalam sehari bisa menghabiskan lebih dari tiga bungkus rokok yang menjadi kebiasaannya sejak remaja. Albert mengakui, tidak ada keinginan dalam dirinya berhenti merokok walaupun orang-orang di sekelilingnya sudah seringkali mengingatkan. Ia merasa, rokok tidak memberikan efek negatif bagi dirinya, karena ia tetap fit dan bisa berkiprah sebagai atlit.

Namun, pada November 2005 Albert Charles Sompie divonis dokter terkena kanker paru-paru stadium 3B dan harus dilakukan pengangkatan sebagian paru kanan atas yang ada kankernya. Mungkin ia tidak akan pernah tahu mengidap penyakit tersebut kalau saja ia tidak merasakan kondisi fisiknya yang terus merosot dan tidak memeriksakan diri ke laboratorium untuk general check up.

Akhirnya, dengan perasaan takut ia memberanikan diri untuk dioperasi. Paru-paru yang terjangkit kanker dipotong. Albert sangat gembira setelah menjalani operasi tersebut. Tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Dua bulan berselang dia divonis terkena kanker usus yang sudah menyebar ke ginjal dan otot tulang belakang. Dengan dorongan semangat dari seluruh keluarga, akhirnya ia pun dioperasi kembali. Dan ia bersyukur, karena masih diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk merasakan hidup lebih baik lagi. Sekarang, ia rajin mengampanyekan hidup tanpa rokok di berbagai kesempatan.
Menciptakan Budaya Anti Rokok di Masyarakat

Mayoritas Penderita Kanker Paru adalah Pria dan Perokok Berat


Diatas adalah sekelumit kisah seorang penderita kanker paru. Menurut dr. Isnu Pradjoko SpP(K), dokter spesialis paru di RSU Dr. Soetomo, tren usia penderita kanker paru saat ini semakin muda. Itu akibat semakin mudanya usia ketika mengisap rokok. “Terus terang, saya sangat prihatin atas fenomena ini. Tak hanya mengalami pergeseran usia, tapi jumlah penderitanya juga bertambah banyak,” ujarnya. Mayoritas penderita kanker paru, lanjut dia, adalah pria dan perokok berat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, populasi perokok pada usia anak-anak cukup tinggi. Yakni, perokok aktif usia 13-15 tahun-mencapai 26,8 persen dan usia 5-9 tahun 2,8 persen. Sementara itu, Global Youth Tobbaco Survey (GYTS) World Health Organization (WHO) juga melaporkan, lebih dari 37,3 persen pelajar di Indonesia adalah perokok aktif. Tiga di antara sepuluh pelajar mengaku mengenal rokok sejak berusia kurang dari 10 tahun dan 61,3 persen dari populasi perokok remaja adalah laki-laki. Menurut WHO, rokok adalah pembunuh yang akrab di tengah-tengah masyarakat. Setiap detik, satu orang meninggal akibat merokok. Rokok juga membunuh separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia produktif yaitu kisaran 35 sampai dengan 69 tahun.

Dari fenomena tersebut, wajarlah jika WHO mencanangkan tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day. Aksi ini merupakan gerakan yang bertujuan menghentikan kebiasaan orang merokok. Dengan adanya peringatan tersebut, paling tidak menjadi media informasi bagi masyarakat, mengingat masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok.

“Meskipun peringatan itu hanya setahun sekali, paling tidak masyarakat betul-betul menyadari bahaya efek dari merokok,” ujar dr. Meidy Espandiary spesialis paru Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta.

Bahaya Efek dari Merokok


Dr. Meidy menjelaskan, rokok merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskuler, stroke, penyakit paru obstruktif kronik atau penyakit sistem pernafasan, kanker paru, kanker mulut, kelainan kehamilan hingga kelainan sistem reproduksi. Nah, penyakit-penyakit itu merupakan penyebab kematian utama di dunia, termasuk di Indonesia.

Hampir 80 persen penderita penyakit paru-paru disebabkan oleh rokok, “Mengapa? Karena asap rokok yang langsung dihisap mengandung 4.000 jenis bahan kimia berbahaya yang menyebabkan kerusakan di saluran pernafasan,” tegasnya. Bahkan, menurutnya, seseorang yang bukan perokok atau perokok pasif dan menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20-30 persen.

Kalau dilihat dari persentasenya, penyakit yang disebabkan rokok cukup fantastis. Seharusnya berbagai kalangan sudah tidak ragu lagi mengambil tindakan yang lebih tegas. Misalnya saja dengan pemberlakuan peraturan atau undang-undang yang membuat larangan merokok. Banyak negara di belahan dunia sudah memberlakukan peraturan tegas terhadap penjualan rokok.

Di beberapa kota di Indonesia telah melakukan larangan. Seperti halnya di Jakarta, sudah diterapkan gerakan dilarang merokok di tempat umum, baik itu di halte bus, di dalam bus, di jalan, dan tempat keramaian lainnya.

Bagi yang tertangkap basah merokok di muka umum akan dikenakan sanksi. Namun, peraturan tinggallah peraturan, masih tetap ada saja orang yang melanggarnya walaupun jelasjelas tertera tulisan ‘Dilarang Merokok’

Berbagai upaya memang perlu dimaksimalkan agar budaya anti rokok menjadi keseharian seluruh warga bangsa ini. Karena sekarang ini yang dibutuhkan adalah realisasi serta dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat tanpa adanya asap rokok. Penyadaran terhadap bahaya rokok tidak bisa dilakukan hanya saat Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di bulan Mei saja. Tapi harus digerakkan mulai dari keluarga.


Katakan Tidak Pada Rokok - Lentera Sehat

0 komentar

Posting Komentar