Senin, 04 September 2017

Doping Dalam Kalangan Atlet Olahraga


Pengertian doping dalam olahraga adalah penggunaan zat-zat yang menghasilkan efek untuk meningkatkan performa atlet pada kompetisi olahraga. Zat-zat yang termasuk doping umumnya dikelompokkan ke dalam tujuh golongan yaitu stimulan, narkotik analgetik, anabolik androgenik, anabolik nonsteroid, penghalang beta, diuretik, dan hormon peptida dengan masing-masing efek yang berbeda.

Hingga abad ke-19, praktik doping dalam dunia olahraga belumlah dilarang. Namun ketika pembalap sepeda asal Denmark dan Inggris, Knud Jensen dan Tom Simpson, tewas akibat doping amfetamin, akhirnya didirikan International Olympic Committee Medical Commission guna mengawasi penyalahgunaan zat terlarang dalam pertandingan. Doping pun mulai dipandang sebagai “dosa besar” dalam dunia kompetisi olahraga.

Doping Dalam Atlet Olahraga

Doping Dalam Dunia Kesehatan


Sejatinya zat-zat yang terkandung dalam doping memiliki manfaat terapeutik. Tenaga kesehatan menggunakan doping dalam dosis tertentu untuk melakukan terapi pada pasien.

Doping tidak selalu memberikan efek negatif karena praktik doping untuk tujuan pengobatan dan diawasi oleh tenaga medis memiliki efek terapeutik. Penggunaan doping di luar tujuan pengobatan dilarang karena berbahaya bagi kesehatan.

Memang doping mampu meningkatkan performa tubuh secara drastis dalam waktu singkat, namun memiliki efek samping bagi penggunanya. Misalnya, meskipun steroid anabolik dapat meningkatkan massa otot, penggunaan dalam dosis tinggi dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan, seperti infertilitas, perbesaran kelenjar prostat pria, kebotakan pada wanita, gangguan jantung dan pembuluh darah, gangguan pertumbuhan perkembangan pada remaja, serta perilaku agresif.

Jika tak dihentikan, penggunaan dalam dosis tinggi yang terus menerus bahkan dapat berujung pada kematian. Mengingat efeknya yang begitu berbahaya, praktik doping oleh atlet sangat tidak disarankan.

Penggunaan Doping Pada Atlit


Penggunaan doping di kalangan atlet memang bukan merupakan hal baru. Dimulai dari ketidaktahuan hingga ketidaksengajaan, doping telah menjadi bagian dari kehidupan para atlet yang ingin mengukir segudang prestasi.

Faktor dibalik kerapnya atlit menggunakan ilegal doping berasal dari sisi internal atlet maupun lingkungan. Faktor internal antara lain aspek psikososial, harga diri yang rendah karena kemenangan merupakan satu-satunya tujuan bagi sang atlet yang tidak ingin kalah karena akan mendapat reaksi negatif dari masyarakat, kurangnya pemahaman mengenai bahaya penggunaan doping, serta rasa putus asa apabila latihan yang telah dilakukan tidak kunjung membuahkan prestasi.

Dari sisi lingkungan, persaingan yang ketat, bonus bagi pemenang dan komersialisasi obat-obatan dari produsen yang tidak diseleksi dengan baik oleh pelatih maupun atlet juga turut andil dalam menciptakan lahan subur penerapan doping pada beragam kompetisi olahraga.

Padahal, atlet yang diketahui mengkonsumsi zat doping harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat. Bagi peraih medali, maka mereka harus merelakan medalinya ditarik kembali oleh panitia. Bonus yang telah dijanjikan pemerintah untuk pemenang atlet pun tidak dapat diberikan.

Selain itu, tidak terlepas dari hakikatnya sebagai suatu zat terapeutik, zat yang terkandung dalam doping yang disalahgunakan ini dapat membahayakan aktivitas para atlet. Efek samping yang ditimbulkan bergantung pada jenis dan banyaknya jumlah zat doping yang dikonsumsi.

Jika ingin meraih prestasi olah raga, cara yang aman adalah atlit menerapkan gaya hidup sehat dan berlatih secara benar untuk meningkatkan kepercayaan diri. 

Sosialisasi dan pemberian sanksi tegas bagi pengguna menjadi fokus penerapan regulasi anti-doping di kalangan atlet. Sosialisasi mengenai pencegahan penggunaan doping sudah diberikan secara jelas oleh beberapa pelatih, serta diberikan buku panduan yang berisi berbagai zat dan obat-obatan yang perlu dihindari. Akan tetapi, terkadang beberapa obat-obatan yang sering dikonsumsi pun dapat mengandung zat doping, seperti parasetamol dengan merek dagang tertentu. Dengan demikian, sangat memungkinkan bagi atlet untuk mengkonsumsi doping tanpa sengaja karena unsur kebiasaan atau ketidaktahuan.

Dalam setiap kompetisi, pemeriksaan terhadap penggunaan doping di kalangan para atlet dilakukan pada pemenang pertama, kedua, ketiga, dan ditambah satu orang atlet yang diambil secara acak serta atlet yang dicurigai menggunakan doping.

Para atlet diharuskan untuk melapor kepada tim doping pertandingan tersebut selambat-lambatnya satu jam setelah pertandingan berakhir. Apabila atlet tidak melaporkan hal tersebut akibatnya didiskualifikasi. Jika atlet terbukti menggunakan doping, atlet tersebut akan diberikan hukuman berupa denda uang atau diskors (tidak dapat mengikuti pertandingan) selama beberapa waktu tertentu.


Doping Dalam Olahraga - Lentera Sehat

0 komentar

Posting Komentar