Jumat, 29 September 2017

Meremajakan Otak Dengan Meniti Anak Tangga


Menjadi tua merupakan keniscayaan bagi setiap orang. Namun, tetap memiliki fungsi otak yang prima di usia tua sehingga senantiasa memiliki kualitas hidup yang maksimal adalah pilihan bagi setiap orang. Kendati penuaan pada otak masih termasuk kejadian yang normal, hal ini bukan berarti proses tersebut tidak dapat diganggu gugat.

Jika kita memperhatikan orang-orang dengan usia lanjut di sekitar kita, bukankah masih ada di antara mereka yang fungsi kognitif serta motoriknya terbilang prima untuk seusia mereka? Hal ini menandakan bahwa walaupun pasti terjadi, brain aging masih dapat diminimalkan. Upaya untuk meminimalkan dampak penuaan inilah yang kita sebut sebagai peremajaan otak.

Meremajakan Otak Dengan Meniti Anak Tangga

Meniti Anak Tangga Sama dengan Meremajakan Otak


Pilihan dalam menggunakan tangga untuk mencapai tingkatan lantai berbeda adalah salah satu upaya yang sangat mudah, tidak memakan biaya, serta efektif bagi orang yang ingin memiliki otak yang awet muda. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Tubuh manusia tersusun atas miliaran sel dengan berbagai fungsi. Sel-sel tersebut menjadi kunci atas berjalannya fungsi suatu jaringan atau organ. Oleh karena manusia tidak diciptakan abadi, sel-sel dalam tubuh akan mengalami penurunan performa seiring berjalannya waktu. Akibatnya, fungsi suatu organ atau jaringan juga akan menurun. Penurunan fungsi yang terjadi akibat bertambahnya usia disebut sebagai penuaan. Setiap bagian tubuh manusia akan mengalami hal tersebut, tidak peduli seberapa vitalnya bagian tersebut, termasuk otak. Penuaan pada otak dikenal juga sebagai brain aging.

Pada brain aging, terjadi perubahan morfologis yang berdampak pada menurunnya kinerja otak. Korteks serebri merupakan zona terluar dari otak yang memiliki warna keabuan atau gray matter. Zona tersebut merupakan kumpulan dari badan beserta inti sel saraf atau neuron yang berfungsi sebagai pusat pengaturan kinerja neuron. Seiring bertambahnya usia, zona ini mengalami penipisan, terutama pada daerah frontal (lobus frontalis) dan hipokampus otak.

Kedua daerah ini memiliki peran penting dalam fungsi intelektual seseorang. Selain itu, penipisan juga terjadi pada otak kecil dan ganglia basalis yang berperan penting pada kontrol pergerakan tubuh. Menipisnya gray matter pada area-area tersebut menandakan berkurangnya jumlah sel neuron sehingga terjadilah penurunan fungsi otak

Studi Tentang Peremajaan Otak


Jason Randal Steffener dari Concordia University Montreal di Kanada membuktikan bahwa peremajaan otak bukanlah hal yang mustahil. Melalui hasil studinya yang dirilis pada Februari 2016, disimpulkan bahwa aktivitas fisik dapat membuat otak menjadi lebih muda daripada usia yang seharusnya.

Dalam studinya tersebut dijelaskan bahwa terdapat dua terminologi yang dipakai untuk menjelaskan usia suatu organ.
  1. Usia kronologis, yaitu usia otak terhitung dari hari kelahiran individu yang bersangkutan. 
  2. Usia biologis, diukur berdasarkan seberapa prima kinerja otak. Alaminya, usia biologis akan sebanding dengan usia kronologis. 
Namun, Steffener dan kawan-kawan membuktikan bahwa usia biologis otak dapat lebih muda beberapa bulan hingga beberapa tahun dibandingkan dengan usia kronologisnya.

Dalam studinya, Steffener mengukur ketebalan korteks serebri masing-masing partisipan yang berasal dari berbagai usia dengan menggunakan MRI. Partisipan yang kerap melakukan aktivitas fisik, seperti jogging, bersepeda, aktivitas aerobik, berenang, berbagai olahraga permainan, dan mendaki tangga ditemukan memiliki usia biologis otak yang lebih muda dibandingkan seharusnya (usia kronologis). Usia muda tersebut ditandai dengan penampakan korteks serebri yang lebih tebal yang terlihat pada pemeriksaan MRI. Dengan kata lain, fungsi otak para partisipan tersebut berada dalam kondisi yang lebih prima daripada kondisi seharusnya berdasarkan usia

Di antara bentuk aktivitas fisik tersebut, meniti anak tangga mungkin memiliki kesan yang sepele. Namun, temuan Steffener dan kawan-kawan dari penelitiannya justru menyatakan sebaliknya. Dibandingkan dengan berbagai bentuk aktivitas fisik yang dilakukan oleh subjek penelitian tersebut, meniti anak tangga ternyata memiliki pengaruh yang relatif lebih besar pada peremajaan otak.

Dari segi intensitas, meniti anak tangga sebanyak satu lantai sudah memenuhi kriteria minimum untuk mencapai dampak positif dari suatu aktivitas fisik. Kedua hal ini memberikan arti penting pada aktivitas fisik berupa meniti anak tangga.

Dari segi frekuensi, aktivitas fisik ini tentu lebih mudah untuk dilakukan ketimbang aktivitas lainnya yang cenderung lebih berat dan membutuhkan waktu khusus. Bangunan tempat manusia beraktivitas, kini sudah amat banyak yang terdiri lebih dari satu lantai, contohnya gedung perkantoran, sekolah, tempat perbelanjaan, tempat umum lainnya, hingga rumah-rumah penduduk.
Tinggalkan lift dan eskalator, pilih anak tangga sekarang juga!
Meskipun teknologi juga turut menyaingi, yaitu dengan adanya eskalator dan lift, peluang seseorang untuk meniti anak tangga tersebut tetap terbilang besar karena jumlah ketersediaan tangga yang cukup banyak. Oleh karena itu, meniti anak tangga yang memiliki intensitas moderat dan kontinu lebih baik dibandingkan dengan aktivitas fisik lainnya. Selain itu, meniti anak tangga merupakan aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh siapa pun, tidak terbatas pada usia dan jenis kelamin sehingga aktivitas ini dapat menjadi pilihan setiap orang.

Sumber: MEDIA AESCULAPIUS

Glosarium
  • MRI = Magnetic Resonance Imaging yaitu alat pemindai yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar organ, jaringan, dan sistem rangka dengan resolusi tinggi.
  • Morfologis = Mengalami perubahan bentuk organisme.
  • Sel = kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup.


Meniti Anak Tangga Dapat Meremajakan Otak - Lentera Sehat

0 komentar

Posting Komentar