Pencegahan Cacat sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Kusta

Kusta telah dikenal sejak tahun 1400 sebelum Masehi. Penyakit ini merupakan infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae (M. leprae). Tempat predileksi yang utama adalah saraf perifer. Itulah sebabnya gejala klinis yang muncul berupa kelainan akibat kerusakan saraf, misalnya anestesi. Selain saraf perifer, basil kusta juga menyerang kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat menyebar ke organ lainnya, kecuali sistem saraf pusat.

Epidemiologi kusta

Epidemiologi Kusta

Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis, serta masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah. Kusta masih menjadi masalah kesehatan yang krusial di negeri dengan kondisi seperti itu.

Cacat pada kusta Kusta telah menjadi penyakit yang ditakuti masyarakat, terutama karena kecacatan yang ditimbulkannya. Stigma itu pula yang membuat pasien kusta acapkali dikucilkan ataupun mengucilkan diri dari pergaulan sosial. Keadaan itu semakin menurunkan kualitas hidup pasien kusta.

Lebih lanjut, pasien kusta menjadi enggan berobat karena takut diketahui orang di sekitarnya bahwa ia menderita kusta. Akibatnya, pengobatan menjadi tak teratur, penularan tetap berlangsung, bahkan dapat terjadi resistansi obat, serta kecacatan yang terjadi tidak dapat dideteksi lebih dini

Cacat pada pasien kusta dapat mengenai tangan, kaki, dan mata. Kecacatan dapat terjadi karena mekanisme penyakit tersebut yang merusak saraf tepi, antara lain anestesi, anhidrosis, dan atrofi otot intrinsik. Keadaan itu disebut sebagai cacat primer, sedangkan cacat sekunder merupakan cacat yang timbul akibat cacat primer.

WHO membagi 3 tingkatan cacat kusta, yaitu tingkat nol, tingkat satu, dan tingkat dua. Tingkat nol bila tidak ditemukan kelainan pada tangan, kaki, maupun mata. Tingkat satu bila terdapat anestesi pada telapak tangan maupun kaki, sedangkan pada mata hanya terjadi gangguan ringan, seperti anestesi kornea dan visus yang sedikit menurun. Selanjutnya, pada cacat tingkat dua, didapati kelainan anatomis pada tangan maupun kaki, serta terjadi gangguan berat pada mata, yaitu lagoftalmus dan visus yang sangat terganggu (kurang dari 6/60).

Kecacatan paling sering timbul ketika terjadi neuritis akut, baik reaksi reversal maupun Erythema Nodosum Leprosum (ENL). Oleh sebab itu, neuritis akut harus segera ditangani dengan pemberian antiinflamasi, misalnya kortikosteroid. Selain itu, ekstremitas yang terserang harus diimobilisasi. Steroid diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari dan diturunkan bertahap 5 mg dalam 2 minggu. Pengobatan antikusta tetap diberikan selama pemberian steroid. Kecepatan penanganan reaksi ini penting untuk mencegah cacat yang menetap.

Patogenesis cacat kusta dapat dilihat pada bagan berikut:

Patogenesis cacat

Bila sudah terjadi cacat, maka pasien harus dilatih untuk merawat diri dan selalu memperhatikan timbulnya luka atau memar pada kulit telapak kaki maupun tangan. Luka harus segera dirawat dan diobati agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Mata yang mengalami anestesi kornea perlu dilindungi dari debu atau benda asing lain yang dapat masuk ke dalam mata. Penggunaan kacamata sepanjang hari dan plester untuk mengatupkan kelopak mata ketika sedang tidur sangat membantu mencegah kerusakan kornea. Selain itu, juga perlu dilakukan pemberian air mata buatan agar dapat mengurangi kekeringan bola mata akibat kerusakan saraf otonom

Cacat kusta lanjut seperti tangan kiting dan kontraktur dapat diupayakan rehabilitasi melalui pembedahan, misalnya dengan tendon replacement. Tindakan tersebut bertujuan agar tangan tetap dapat berfungsi untuk kegiatan sehari-hari

Pencegahan cacat sedini mungkin yang dilakukan oleh tenaga medis dan pasien dengan merawat diri serta mewaspadai setiap kelainan dapat memperkecil beratnya kecacatan. Dengan demikian, upaya menghilangkan anggapan bahwa kusta identik dengan cacat sedikit demi sedikit dapat terwujud. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah agar kualitas hidup pasien kusta dapat meningkat serta penyakit ini tidak lagi menjadi beban pasien, keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Sumber: Sri Linuwih S Menaldi, SpKK(K) di MEDIA AESCULAPIUS

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *